Sambel Orek Kuliner Khas Batu, Patut Dicoba

Warung Sambel Orek yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman, ruko nomor 3, Kota Batu ini selalu ramai di kunjungi wisatawan pemburu kuliner. Foto: Eko Sabdianto/malangNEWS
Warung sambel orek yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman, ruko nomor 3, Kota Batu ini selalu ramai di kunjungi wisatawan pemburu kuliner. Foto: Eko Sabdianto/malangNEWS

MALANG NEWS – Kota Batu menjadi salah satu destinasi wisata favorit untuk menghabiskan waktu libur panjang. Tentu, termasuk libur akhir tahun.

Ada berbagai tempat hiburan menyenangkan di kota wisata unggulan Jatim ini. Semua destinasi itu berpotensi kuat untuk merelaksasi wisatawan dari rutinitas sehari-hari.

Selain tempat wisatanya yang sangat menghibur, wisatawan perlu pula mencoba menikmati kuliner khas kota ini. Kuliner apa saja yang bisa dicoba?

Ada aneka sambal pedas dalam berbagai sajian menu. Bagi sebagian besar orang Indonesia, sambal memang menjadi menu utama sehari – hari. Rasanya ada yang kurang jika makan tanpa sambal.

Bayangkan kalau kita makan lalapan, ayam geprek, mi ayam, atau bakso disajikan tanpa sambal. Pasti ada yang kurang, kan?

Sekarang ini sambal banyak dijual dalam bentuk kemasan. Ada yang enak, bahkan menyerupai sambal buatan rumah sendiri. Namun bagaimana pun sambal buatan sendiri lebih sehat dan segar, dibanding yang sudah dikemas dengan tambahan bahan pengawet.

Salah satunya sambal yang patut dicoba adalah sambel Orek. Hem….. seperti apa sih rasanya? Bagi penikmat kuliner khususnya masakan khas Jawa, pasti tak asing dengan sambel orek.

Ya, sambal yang didominasi bawang, cabai, dan garam ini sangat familiar bagi pecinta masakan pedas.

Ira Mufida, pemilik warung sambal orek. Foto: Eko Sabdianto/malangNEWS
Ira Mufida, pemilik warung sambal orek, usai melayani pesanan pelanggan. Foto: Eko Sabdianto/malangNEWS

Menurut pemilik warung sambal orek, Ira Mufida (37), dirinya sengaja memilih usaha kuliner dengan berbahan dasar sambal. Dalihnya, tak semua sambal dapat diterima di hati para pecinta kuliner.

“Kami ingin menyajikan sesuatu yang belum begitu di kenal atau belum familiar. Salah satunya dengan menciptakan sambal orek ini”, kata dia memulai perbincangannya dengan Malang News, Sabtu (5/1/19).

Ibu empat anak ini menuturkan, awal buka warung sambal orek pada Desember 2008 silam. Bermodal bahan yang tidak begitu banyak.

“Awal omset penjualan Rp 38 ribu, sampai pada tahun ketiga sudah bisa buka cabang lagi. Bertempat di depan Alun – alun Kota Batu. Poses masak awal hanya dengan kuali kecil. Hanya sambal dengan cobek kecil satu per satu. Selanjutnya pada tahun kedelapan buka cabang baru lagi di Jalan Raya Pandanrejo 31, Bumiaji,” jelas dia.

Ira menguraikan, kemudian ada sebuah tragedi. Lahan yang ia tempati dieksekusi. Warungnya pun tergusur.

“Kami jatuh bangun. Seiring dengan berjalannya usaha ini,” tutur dia.

Ya, bisnis kuliner sambal oreknya berakhir dengan sebuah tragedi eksekusi. Lahan yang ditempati bermasalah, disengketakan. Batas pengosongan lahan begitu singkat.

“Karyawan kami berjumlah enam orang dan ada pelanggan yang harus dipertahankan, maka bismillah kami nekat sewa ruko di Jalan Panglima Sudirman 3 ini, atau lebih tepatnya sebelah pom bensin Lahor, dengan tanpa mengubah resep warisan dari keluarga,” kata Ira, mengenang.

Sambal orek tetap bertahan dan terus berjalan, hingga kini. Lokasinya di Jalan Panglima Sudirman, ruko nomor 3, Kota Batu ini selalu ramai di kunjungi wisatawan pemburu kuliner. Baik itu di saat hari biasa atau hari libur.

Wanita asli Kota Batu ini lebih lanjut menceritakan, awal mula berjualan di Jalan Sudiro, atau yang biasa disebut “Rumah Tua”, 2008 silam.

“Kami pindah ke sini (ruko) dengan menyewa, per tahun 40 juta rupiah. Berhubung banyak pelanggan, maka kami menyewa selama lima tahun,” urainya.

Para pelanggan dan wisatawan pecinta kuliner, saat tengah menunggu pesanan. Foto: Eko Sabdianto/malangNEWS
Para pelanggan dan wisatawan pecinta kuliner, saat tengah menunggu pesanan. Foto: Eko Sabdianto/malangNEWS

Soal menu, ia yakinkan, pasti nikmat. Sebut saja, antara lain, masakan Jawa seperti lalapan, nasi goreng, kikil goreng, babat goreng dan usus sarang burung yang banyak diminati pelanggan serta masih banyak lagi.

Harganya pun ia jamin sangat terjangkau. Seperti ayam geprek misalnya berkisar antara Rp 6 ribu, sampai 21 ribu untuk yang lainnya. Tersedia pula aneka minuman, antara lain ice blend, wedang panas, jus segar, dan es soda.

Di hari – hari biasa jumlah pelanggan sekitar 60 orang, namun jika waktu liburan berkisar 100 orang lebih. Mereka bahkan rela mengantri demi dapat merasakan sambal orek.

Jam buka ruko warung sambal orek mulai pukul 10.00 WIB sampai pukul 01.00 dini hari.

Salah satu pelanggan yang juga wisatawan asal Jakarta, Ari Simalungsong mengungkapkan, setiap musim libur dirinya mengaku kerap berkunjung ke Kota Batu hanya untuk menikmati sambal orek.

“Tempatnya di sini nyaman, bersih. Masakannya enak banget. Lalapannya juga, terlebih sambal oreknya itu, pedasnya asyik. Bikin nampol di lidah. Pokoknya kerasa banget. Gak rugi datang jauh – jauh ke Batu, kulinernya mantab,” ungkap Ari yang datang bersama keluarganya.

Pewarta : Eko Sabdianto

Editor : Yunanto

Publisher : Andi Rachmanto