Melegenda! 39 Tahun, Warung “Bu Mus” Tetap Berjualan

Warung
Warung “Bu Mus” yang berlokasi di Jalan Gajahmada, Gang Vlll, RT 03, RW 09, Kauman, Kota Batu ini selalu menjadi jujugan para pemburu kuliner. Foto: Eko Sabdianto/malangNEWS

MALANG NEWS – Meskipun usia tidak muda lagi, Muslifah (52) wanita paruh baya ini memiliki semangat kerja yang luar biasa. Lantaran, ia selama 39 tahun berjualan masakan jawa dengan harga yang relatif tergolong murah.

Warung “Bu Mus” namanya, tempatnya berlokasi di Jalan Gajahmada, Gang Vlll, RT 03, RW 09, Kauman, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Kota Batu.

Menurutnya, sejak awal berdirinya pada Tahun 1980, nasi campur dan nasi pecel buatannya sudah memiliki banyak pelangan tetap.

“Seringkali wisatawan asal luar kota singgah hanya untuk menikmati masakan di warung ini mas. Menu masakan yang disajikan, selain nasi pecel juga ada nasi campur, dengan harga per porsinya sangat murah, Rp 6.000,00 saja,” tuturnya kepada Malang News, Senin (29/4/19) malam.

Selain itu, warung “Bu Mus” juga menyediakan aneka gorengan, mulai dari tempe goreng, weci, tahu brontak, bubur kacang hijau dan juga minuman berupa kopi dan teh.

“Saya mulai berjualan di sini sekitar Tahun 1980 an, yakni kurang lebih sudah 39 Tahun. Awalnya harga gorengan di sini mulai Rp 25, 00 saja, kalau sekarang Rp 500,00 kalau kopi harganya Rp 3.000, 00 kalau teh gelas kecil Rp 1.000,00 gelas besar Rp 2.000,00 Warung saya ini buka mulai pukul 17.00 WIB sore sampai pukul 10.00 WIB malam. Pendapatan kurang lebih Rp 250,00 ribu,” kata Bu Mus, sapaan akrabnya.

Saat ditanya soal harga yang tergolong murah apa tidak merugi, Ibu satu anak ini mengungkapkan, bahwa niat dirinya berjualan karena sambil beramal.

“Saya berjualan di sini atas kebijakan dari Pak RT, Pak RW dan warga di Kauman. Saya juga tidak memikirkan untung atau rugi mas, meskipun tidak mendapat laba yang banyak, yang penting barokah dan lancar, tentunya juga bisa beramal,” ungkap dia.

Ilham (32) anak dari pemilik warung mengatakan, bahwa setiap harinya selalu membantu sang ibu untuk berjualan.

“Karena anak tunggal, jadi setiap harinya saya membantu ibu untuk berjualan disini. Kalau tidak di bantu, kasihan ibu karena faktor usia yang sudah tua. Tapi semangatnya sungguh luar biasa, tetap saja mau berjualan sampai sekarang ini mas,” tandas pria yang masih lajang ini.

Walaupun rata-rata pelanggan di warung tersebut kebanyakan hanya masyarakat Kota Batu saja, Ilham berharap agar ibunya selalu sehat agar dapat melayani pelanggan.

“Ya, harapan saya supaya ibu tetap sehat, sehingga bisa terus dapat melayani para pelanggan mas,” ujar dia.

Sementara itu, Hartono (32) salah satu pelanggan yang kerap makan di warung Bu Mus mengatakan, cita rasa masakannya sangat berbeda dengan warung lainnya.

“Tak lain karena rasa bumbu kacang yang menjadi siraman pada nasinya sangat kuat dan khas. Inilah yang membedakan dengan nasi pecel lain pada umumnya. Selain itu juga ada tempe goreng dan tempe kacang yang gurih dan kriuk menambah kenikmatan kuliner legendaris ini,” ungkap Hartono, sembari menikmati nasi pecel kesukaannya.

Walapun kerap sekali ada pejalan kaki dan pengendara motor yang berlalu lalang, hal itu tak mengganggu pelangan setia di warung tersebut.

“Mau bagaimana lagi mas, tempatnya memang seperti ini di lompongan (gang kecil). Tapi, harganya kan amat murah, juga rasanya enak, bahkan sejak kecil saya sering makan di sini bersama keluarga,” pungkas pria asli Kota Batu ini.

Pewarta : Eko Sabdianto

Editor : Andi Rachmanto

Publisher : Andri Priyo Utomo