Kelahiran Bayi Gajah, Torehan Prestasi Bagi Batu Secret Zoo

Kelahiran bayi gajah Sumatera, pada Jumat, (5/7(19) kemarin, di kandang gajah Batu Secret Zoo.
Kelahiran bayi gajah Sumatera yang diberi nama Dumbo, di kandang gajah Batu Secret Zoo dengan berat 87 kg dan tinggi 76 cm. Foto: Eko Sabdianto/malangNEWS

MALANG NEWS – Untuk yang kesekian kalinya Jawa Timur Park Group melalui Batu Secret Zoo, Jatim Park 2, mengukir prestasi di bidang konservasi dan pelestarian satwa langka. Batu Secret Zoo merupakan satu-satunya kebun binatang modern di Indonesia yang telah diakui dunia sebagai kebun binatang terbaik se-Asia versi Tripadvisor.

Selain sebagai kebun binatang, Batu Secret Zoo juga merupakan lembaga konservasi alam yang bertugas untuk menjaga, melindungi, dan mengembang biakkan satwa-satwa endemik dan langka. Baik satwa endemik Indonesia maupun satwa luar Indonesia. Dan diantara torehan prestasi yang terbaru adalah kelahiran bayi gajah Sumatera.

Manager Marketing dan Public Relation Jatim Park Group, Titik S. Ariyanto menjelaskan, kelahiran bayi gajah Sumatera tersebut pada Jumat, (5/7(19) kemarin, melalui proses kelahiran normal di kandang gajah Batu Secret Zoo.

“Bayi gajah ini lahir dari indukan betina bernama Nazumi yang berusia 21 tahun, dan gajah jantan bernama Andalas

yang berusia 22 tahun. Rencananya bayi gajah Sumatera ini akan ditampilkan ke publik hari ini, Sabtu (13/7/19) Pukul 09.00 WIB, yang bertempat di Exhibit Gajah Batu Secret Zoo,” terang dia.

Ditambahkan olehnya, kedatangan Direktorat Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem, Ir. Wiratno, M.Sc, bertujuan untuk memberikan nama pada anakan gajah kedua di Batu Secret Zoo.

“Ya, jadi Bapak Ir. Wiratno, M.Sc, memberi nama “Dumbo”, nama tersebut dipilih agar gajah Sumatera yang merupakan satwa endemik Indonesia lebih dikenal oleh anak kecil. Dumbo merupakan anak kedua dari indukan Nazumi, oleh karena itu Nazumi terlihat lebih tenang saat melahirkan, serta lebih perhatian dan sangat menjaga Dumbo, sang anak,” imbuhnya.

Ditempat yang sama, drh. Batu Secret Zoo, Roosy Margaretha menerangkan, bahwasanya masa kebuntingan gajah berkisar antara 22 sampai 23 bulan.

“Selama kebuntingan, tim dokter hewan Batu Secret Zoo melakukan pemeriksaan yang berkaitan dengan kebuntingan gajah Nazumi, meliputi pemeriksaan kadar kalsium darah, serta Ultrasonografi. Hal ini dilakukan untuk evaluasi kesehatan induk serta fetus atau bayi selama masa kebuntingan,” jelas dia.

Lebih lanjut ia memaparkan, kelahiran bayi gajah tersebut merupakan kebanggaan bagi Batu Secret Zoo sebagai lembaga konservasi ex-situ, atas keberhasilan melahirkan anakan gajah kedua yang lahir (5/7/19) pada pukul 02:22 WIB, dengan berat badan 87 kg dan tinggi badan 76 cm, berjenis kelamin jantan.

“Kedua gajah ini berasal dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Padang Sugihan, Banyuasin, Sumatera Selatan. Sebelum berada di PLG, gajah Nazumi dan Gajah Andalas dimanfaatkan untuk atraksi. Mereka didatangkan ke Batu Secret Zoo pada (19/3/15) silam, yang bertujuan untuk konservasi dan sarana edukasi bagi pengunjung tentang gajah, khususnya gajah Sumatera,” bebernya.

Sementara itu, Direktorat Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem, Ir. Wiratno, M.Sc, menyampaikan, gajah merupakan mamalia terbesar di darat. Ada dua jenis spesies gajah di dunia, yaitu gajah afrika (Loxodonta africana) dan gajah asia (Elephas maximus). Gajah-gajah yang ada di Batu Secret Zoo adalah gajah Sumatera, sub spesies dari gajah asia dengan nama ilmiah Elephas maximus sumatranus.

“Gajah Sumatera termasuk satwa terancam punah (critically endangered) yang dikeluarkan oleh Lembaga Konservasi Dunia IUCN. Di Indonesia, gajah Sumatera juga masuk dalam satwa dilindungi menurut Undang-Undang No 5 Tahun 1990,” ujarnya.

Menurutnya, ada tiga permasalahan besar saat ini terjadi yang menimbulkan kematian gajah di alam, yaitu penurunan habitat gajah akibat konversi lahan, perburuan gading gajah dan konflik gajah dengan manusia.

“Konflik gajah dengan manusia juga merupakan dampak dari penurunan habitat gajah akibat konversi lahan, merangseknya masyarakat di sentra-sentra populasi gajah liar di alam,” pungkasnya.

Pewarta : Eko Sabdianto

Editor : Andi Rachmanto

Publisher : Andri Priyo Utomo