Hizaam Bocah di Pujon Masih “Menangis Darah”, Butuh Uluran Tangan Dermawan

Nizaam
Hizaam, bocah asal Dusun Bengkaras, Desa Madiredo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, yang kerap menangis mengeluarkan air mata darah. Foto: Ardianto Rakya/malangNEWS

MALANG NEWS – Riang, ceria dan sedikit manja tingkah Hizaam di pangkuan orangtuanya. Itulah keseharian Hizaam (5 tahun), bocah asal Dusun Bengkaras, Desa Madiredo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.

Di usia belia, bocah ini tidak bisa menikmati hidup layaknya anak-anak normal seusianya. Pasalnya, kondisi itu disebabkan oleh penyakit mata yang menimpa bocah tersebut.

Hizaam, sapaan akrabnya, merupakan anak kedua dari pasangan suami-istri Agus Mualimin dan Nova Udi Juwitasari. Keduanya bekerja sebagai buruh tani serabutan. Melihat kondisi anaknya tersebut, Agus dan Nova mengaku hatinya kerap serasa teriris-iris.

Mereka sangat berharap ada perhatian dan uluran tangan dari pemerintah maupun khalayak dermawan. Empati terhadap penyakit yang diderita Hizaam sangat mereka dambakan.

Kepada awak media, Kamis, (25/7/19), Yanti dan Syaikur, bibi dan paman Hizaam, menuturkan Hizaam sejak lahir memang sudah mengalami sakit pada matanya.

Kendati demikian Hizaam masih bisa bermain bersama teman-temannya, tanpa mengeluhkan penyakitnya.

Akhir-ahir ini terjadi pendarahan pada mata Hizaam, saat bocah itu menangis. Saat-saat seperti itulah perhatian orangtua dan keluarga terhadap kondisi Hizaam semakin intensif dengan melakukan pengobatan. Baik secara tradisional maupun medis.

“Namun, kondisi mata Hizaam tidak kunjung membaik,” ungkap Yanti, bibinya.

Seiring berjalannya waktu, lanjut Yanti, di tengah keterbatasan biaya pihak keluarga memberanikan diri bercerita kepada sejumlah jurnalis. Harapan mereka, lewat publikasi media massa dapat memetik perhatian dari pemerintah dan khalayak dermawan.

Hal yang memprihatinkan, ahir-ahir ini Hizaam sering menangis dan meneteskan “air mata” darah dari dua matanya. Kondisi tersebut mengharuskan orangtuanya membawa Hizaam ke rumah sakit dengan bekal biaya yang pas-pasan.

“Dari mana kami dapat uang cukup untuk biaya berobat Hizaam. Kami berharap ada perhatian dari pihak-pihak yang ada rezeki lebih,” harap bibi bocah malang itu.

Kendati demikian, dari keluarga mengaku berterima kasih kepada sejumlah pihak yang sudah datang melihat kondisi Hizaam, serta memberikan semangat dengan harapan dapat meringankan beban keluarga.

Pewarta : Ardianto Rakya

Editor : Eko Sabdianto

Publisher : Andri Priyo Utomo