Murid Merasa Dipaksa Akui Oplos Minuman, Orangtua Tak Terima

Orangtua
Orangtua IC bersama pihak sekolah dengan disaksikan Bhabinkamtibmas Kelurahan Sisir dari Polsek Batu, saat menandatangani surat perjanjian “Berita Acara Hasil Musyawarah”. Foto: Eko Sabdianto/malangNEWS

MALANG NEWS – Tidak terima anaknya dituduh mengoplos minuman keras dan dipaksa mengakui perbuatannya, Jhonny SR, orangtua IC, siswa sebuah SLTP Negeri di Kota Batu, mendatangi sekolah anaknya, Selasa (8/10/19) sore.

“Kedatangan kami selaku orangtua murid bermaksud meminta surat perjanjian, bahwa anak kami (IC) untuk dapat tetap bersekolah tanpa ada intimidasi dari pihak sekolah karena telah dituduh mengoplos minuman (alkohol dicampur minuman pria) dan mengajak teman-temannya,” tutur Johny didampingi istrinya, Eka Wati, kepada awak media.

Ambon sapaan akrabnya menambahkan, tuduhan yang dialamatkan kepada anaknya (IC) tidak benar. Ia meyakinkan, pada saat kejadian (mengoplos minuman), anaknya tengah berada di rumah sakit. Menjalani perawatan karena sakit cacar.

“Anak saya itu sakit cacar, tapi kok dituduh otak dari murid-murid yang ketahuan mengoplos minuman di sekolah. Jadi, saya tidak terima. Anak saya oleh Kepala Sekolah bahkan juga dipaksa mengakui perbuatan yang sama sekali tidak dilakukannya,” ungkap ayah IC tersebut.

Saat dikonfirmasi awak media, IC juga mengaku dirinya kala itu memang dipanggil pihak sekolah dan dituduh telah mengoplos minuman, serta mengaak teman-temannya untuk minum.

“Saya dipaksa mengaku oleh Bapak Kepala Sekolah. Karena saya diancam mau ditempeleng dan dikeluarkan dari sekolah, ya saya akhirnya mengaku, walaupun saya tidak pernah mengoplos. Karena waktu itu (peristiwa pengoplosan) saya di rumah sakit,” ungkap siswa SLTP itu, dengan polos.

Terkait dengan permasalahan tersebut, Kepala Sekolah SLTP Negeri setempat, Sudiyono, S.Pd., M.Pd, membantah bahwa dirinya telah memaksa salah satu murid untuk mengakui tuduhan. Ia sekaligus juga mengklarifikasi tidak ada ancaman, apalagi akan menempeleng atau bahkan akan mengeluarkan murid dari sekolah.

“Insya Allah itu gak memaksa. Tapi dengan tulus saya ingin berbuat yang terbaik. Berbuat yang terbaik itu dengan cara mendidik. Hingga ke depannya itu lebih baik. Bukan yang harus “Haaahhh”, begitu. Kita sama-sama belajar. Saya tidak memaksa untuk mengakui, apalagi mengancam mau menempeleng dan mengeluarkan dari sekolah,” ujarnya.

Sudiyono menambahkan, terkait dengan permasalahan itu pihak sekolah telah menyelesaikan secara kekeluargaan dengan pihak orangtua walimurid dimaksud.

“Hari ini kami (pihak sekolah) telah menyelesaikan permasalahan ini, sekaligus membuat surat perjanjian bersama. Orangtua murid dengan disaksikan oleh guru-guru, serta dimediasi Bhabinkamtibmas dari Polsek Batu. Jadi hari ini permasalahan ini kami anggap sudah selesai,” pungkas Sudiyono.

Konfirmasi secara terpisah juga diperoleh awak media dari internal DPRD Kota Batu. Berdasarkan laporan dari orangtua walimurid, Katarina Dian Nefiningtyas, S.Sos, anggota DPRD Kota Batu, mengaku amat menyayangkan sikap dari pihak sekolah dimaksud. Bahkan, ia juga berjanji bakal berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan Pemkot Batu.

“Kami diwaduli (dilapori) oleh orangtua murid tersebut. Sebagai wakil rakyat, wakilnya wong Batu (orang Batu), kami bakal berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Pemkot Batu terkait dengan peristiwa adanya tuduhan dan pemaksaan yang dilakukan pihak sekolah,” paparnya.

Politisi Partai Gerindra ini juga menambahkan, orangtua dari walimurid yang dimaksud saat itu menelepon menceritakan tentang tuduhan dan paksaan pengakuan dari salah satu murid di sebuah SLTP Negeri di Kota Batu.

“Jadi, orangtua dari walimurid telepon. Dia menceritakan kepada kami, karena anaknya dituduh mengoplos minuman dan dipaksa untuk mengakui perbuatannya. Padahal, keterangan dari orangtuanya, anak tersebut nyatanya di rumah sakit. Artinya, dia (siswa yang dituduh) tidak terlibat, namun justru dipaksa untuk mengakui perbuatan yang sama sekali tidak dia perbuat,” tandasnya.

Hal senada juga dikatakan Hari Danah Wahyono, anggota DPRD Kota Batu. Saat itu ia juga dilapori oleh orangtua IC, bahwasanya anaknya dituduh mengoplos minuman dan dipaksa untuk mengakuinya.

“Tempo hari itu orangtua IC menghubungi saya, dia bilang kalau anaknya dituduh mengoplos minuman di sekolah. Padahal waktu itu anaknya sedang sakit dan di rawat di rumah sakit,” terang H. Nanang sapaan akrabnya.

Terkait dengan permasalahan tersebut, Politisi Partai Gerindra ini bakal berkoordinasi dengan komisi yang membidangi pendidikan di dewan (DPRD) Kota Batu, serta menemui Kepala Dinas Pendidikan Pemkot Batu dan pihak sekolah yang bersangkutan.

“Ya, agar permasalahannya jelas. Betul tidak siswa SLTP itu dituduh mengoplos minuman dan dipaksa untuk mengakui,” tandasnya.

Sementara itu hingga berita ini dilansir, Kepala Dinas Pendidikan Pemkot Batu, Eny Rachyuningsih, saat dikonfirmasi awak media melalui pesan WhatApps (WA) masih belum membalas.

Pewarta: Eko Sabdianto

Editor: Andi Rachmanto

Publisher: Andri Priyo Utomo