Janjikan Jadi PNS, Warga Sukun dan Areng-areng Ditangkap Satreskrim Polres Batu

Polres Batu saat
Wakapolres Batu Kompol Zein Mawardi, A.Md didampingi Kasubag Humas Ipda Ivandi Yudistiro, dan Kasat Narkoba Iptu Yusi Purwanto, S.H, menunjukkan barang bukti (BB) saat memimpin konferensi pers kasus penipuan CPNS di Mapolres Batu. Foto: Eko Sabdianto/malangNEWS

MALANG NEWS – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Batu menangkap dua orang tersangka pelaku tindak pidana penipuan. Pidana tersebut terkait dengan janji bisa memasukkan 20-an orang korban menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dengan biaya Rp 65 juta – Rp 85 juta per orang. Total kerugian korban Rp 600 juta lebih.

Dua tersangka dimaksud adalah DS alias RD alias Levin alias Diko (35), dan MKS alias Wly alias Ars alias Zen (33). Tersangka Diko warga Jalan Martorejo, Areng-areng, RT.07/RW.02, Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo Kota Batu. Sedangkan tersangka Zen warga Jalan Terusan Tanjung Putra Yudha, RT.02/RW.13, Kelurahan Tanjung, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Tersangka menipu dengan modus operandi menjanjikan korbannya bisa masuk menjadi PNS di Pemerintah Kota (Pemkot) Batu. Syaratnya, korban harus menyerahkan sejumlah uang kepada tersangka.

Wakapolres Batu, Kompol Zein Mawardi, A.Md menjelaskan kronologisnya. Sekitar awal 2014, korban mengenal tersangka Diko dalam hubungan bisnis ternak burung kenari. Perkenalan itu terjadi di rumah kontrakan tersangka, di Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.

“Selanjutnya tersangka berpura-pura sebagai ahli IT (informatika telekomunikasi) yang sering dimintai tolong oleh Polda dalam melacak nomor telepon. Tersangka juga mengaku mempunyai kenalan pejabat eselon ll di Kemendagri Jakarta, bernama Rudi Wiroharjo yang bisa membantu meluluskan tes seleksi CPNS dengan syarat menyerahkan nama peserta,” kata Kompol Zein Mawardi dalam Konferensi Pers di Mapolres Batu, Kamis (5/9/2019).

Kronologis berikutnya, lanjut Wakapolres Batu, formasi (posisi) yang diikuti, nomor pendaftaran, dan dikenai biaya operasional sebesar Rp 2,5 juta hingga Rp 10 juta.

Perkara pidana tersebut terungkap ketika salah satu korban, Muhadib (60), warga Jalan Patimura Gg Vll, RT 04/RW07, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu, bersama sekitar 20 orang melapor ke Polres Batu, 16 Agustus 2019.

Orang kedua di jajaran Polres Batu tersebut menambahkan, para korban merasa tertipu, karena dijanjikan oleh tersangka bisa masuk PNS. Namun, kenyataannya hal itu tidak kunjung terwujud. Padahal, para korbannya telah menyetor uang hingga Rp 608 juta kepada tersangka.

“Korban dan tersangka bertemu awal tahun 2014, tepatnya bulan Januari. Korban menyerahkan berkas penerimaan persyaratan CPNS dan bukti transferan Rp 85 juta kepada tersangka, pada 22 Juni 2014. Kemudian 10 Januari 2019 korban transfer lagi Rp 80 juta. Tapi sampai tahun 2019, janji tersangka tidak terealisasi sehingga korban melaporkannya,” imbuhnya.

Polisi melakukan penyidikan hingga akhirnya meringkus dua tersangka tersebut di rumah masing-masing. Berdasarkan hasil pemeriksaan, tersangka telah melakukan aksi serupa kepada enam korban di wilayah yang berbeda.

Wakapolres Batu membeberkan, seluruh korban dijanjikan oleh tersangka bisa masuk PNS dengan syarat menyetorkan uang dengan nominal bervariasi setiap korban, yakni berkisar Rp 65 juta – Rp 85 juta per orang.

“Tersangka mengaku kepada korban kalau pernah memasukkan seseorang jadi PNS. Jadi korban mudah percaya dan menuruti semua kemauan tersangka,” paparnya.

Di hadapan polisi dan awak media, tersangka mengaku nekat melakukan penipuan karena terhimpit masalah ekonomi dan membutuhkan uang.

“Himpitan masalah ekonomi membuat saya melakukan ini. Saya tidak punya uang, dengan begitu (menipu) bisa cepat dapat uang banyak,” katanya.

Tersangka menjelaskan uang yang ditarik dari para korban tidak pernah digunakan untuk membiayai proses rekrutmen CPNS seperti yang telah ia janjikan.

Namun uang korban tersebut justru digunakan untuk kepentingan pribadinya. Termasuk untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Akibat perbuatannya, kini dua tersangka tersebut dijerat dengan Pasal 378 KUHP Junto 55 ayat 1 KUHP Junto 64 ayat 1 KUHP, dengan ancaman hukuman kurungan penjara paling lama 4 (empat) tahun.

Pewarta: Eko Sabdianto

Editor: Andi Rachmanto

Publisher: Andri Priyo Utomo